Selama dua tahun terakhir narasi soal judi online selalu soal blokir situs. Domain baru muncul, Komdigi blokir lagi, terus begitu. Tapi sejak pertengahan 2026 fokusnya bergeser. Sasarannya bukan lagi cuma website slot atau live casino, melainkan rekening bank yang jadi tempat uang taruhan itu keluar masuk.
Dari Blokir Situs ke Blokir Rekening
Angkanya memang sudah besar duluan. Kementerian Komunikasi dan Digital memblokir lebih dari 8,8 juta situs perjudian daring sejak 2017 sampai dengan 2 September 2026. Tapi kalau dihitung sejak strategi baru dijalankan, Komdigi telah menindak sekitar 3,7 juta situs dan konten bermuatan judi online sejak 20 Oktober 2024 hingga 12 Juli 2026. Jutaan blokir itu ternyata tidak cukup bikin efek jera. Situs baru selalu muncul dalam hitungan jam, jadi pemerintah putar strategi ke arah yang lebih menyakitkan buat operator: uangnya.
Di sinilah OJK masuk. Hingga Agustus 2026 OJK telah meminta perbankan melakukan enhanced due diligence (EDD) dan atau pemblokiran terhadap sekitar 38.375 rekening yang terindikasi melakukan aktivitas perjudian daring. Bandingkan dengan sebulan sebelumnya, jumlah rekening tersebut meningkat dibandingkan periode Juli 2026 yang tercatat sekitar 36.735 rekening. Grafiknya naik terus tiap bulan, bukan turun. Artinya bank-bank sekarang jadi garda depan, bukan cuma Komdigi yang sibuk klik tombol takedown.
Kenapa Rekening yang Bersih Bisa Ikut Kena?
Proses EDD ini kerja lewat verifikasi NIK. Kebijakan pemblokiran dilakukan berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, dengan verifikasi melalui NIK serta penerapan enhanced due diligence oleh perbankan. Masalahnya, banyak rekening yang dipakai bandar judi online bukan rekening pribadi mereka. Rekening itu dibeli, disewa, atau dipinjam dari orang lain yang kadang tidak sadar rekeningnya jadi penampung dana taruhan. Begitu sistem menandai satu nomor rekening terkait aliran dana judol, seluruh transaksi di rekening itu ikut diperiksa, dan pemilik aslinya bisa kaget begitu saja saldonya tidak bisa ditarik.
Ini pola yang sama dengan kasus rekening tabungan mahasiswa atau pekerja lepas yang tiba-tiba diblokir gara-gara pernah menerima transfer dari akun yang belakangan terbukti dipakai bandar. Bukan salah mereka, tapi sistem cleansing tidak selalu presisi di tahap awal.
Apakah Cara Ini Benar-Benar Menekan Angka Taruhan?
Data PPATK memang menunjukkan tren turun. Nilai perputaran dana judi daring mencapai Rp359,81 triliun pada 2024, kemudian turun menjadi Rp286,84 triliun pada 2025. Tapi jangan buru-buru senang. Pada triwulan I 2026, nilai perputaran dana judi daring tercatat Rp40,3 triliun dengan total deposit Rp10,59 triliun. Kalau ditarik garis lurus setahun, angka itu masih di kisaran ratusan triliun. Turun 30 persen dari angka yang tadinya hampir Rp400 triliun tetap saja bukan kabar baik, itu cuma berarti industrinya menyusut sedikit, bukan hilang.
Efek Samping: Perburuan Link Alternatif Makin Rame
Yang menarik, tekanan di sisi perbankan justru bikin trafik pencarian domain cadangan makin ramai. Setiap kali satu jalur akses ditutup, entah itu situs atau rekening penampung, pemain lama langsung cari jalan masuk baru l
